Tampilkan postingan dengan label prabowo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label prabowo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2014

Saya Memaafkan Prabowo.

Ini bukan tulisan sindiran. Ini sungguhan.

Kita sering lupa bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Banyak sekali hal tergantung dengan cara kita dibesarkan, keluarga kita, nilai-nilai yang ditanamkan di kita, lingkungan kerja kita, pertemanan kita.

Tidak ada manusia yang sempurna. Tak akan pernah ada. Kita bukan Tuhan. Yang sedang menulis ini? Jauh dari sempurna dan banyak dosa hitam dan kekurangan saya yang kamu tidak akan pernah tahu, sehingga saya tidak pantas membenci orang karena kesalahan mereka.

Prabowo dengan pelanggaran HAM-nya, penculikan aktifisnya, indikasinya sebagai salah satu tokoh di balik kerusuhan 98 yang menjadikan banyak orang-orang keturunan Tionghoa seperti saya menjadi korban.

Hatta Rajasa dengan dugaan korupsi dan kedekatannya dengan mafia minyak serta permainannya dengan hukum untuk melepaskan anaknya.

Aburizal Bakrie dengan pengemplangan pajak dan keengganannya bertanggung-jawab atas Lapindo dan kesusahan ribuan rakyat Indonesia.

Saya sudah memaafkan mereka semua. Mungkin saja mereka manusia yang lebih baik dari saya, hanya Tuhan yang tahu pasti tentang itu.

Sungguh, kalau kamu bisa melihat hati saya sekarang: Hati saya sejuk, tidak ada emosi dan saya sudah memaafkan mereka. Manusia mana sih yang tidak pernah berbuat salah?

Tetapi.

Ada tetapi besarnya nih.

Tetapi memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang amat sangat berbeda.

Orang sering menyamakan dua hal yang berbeda ini. Banyak orang memilih Prabowo karena mereka sudah memaafkannya.

Tapi sekali lagi, ini adalah dua hal yang amat berbeda.

Paling gampang saya kasih contoh seperti ini.

Ingat kasus-kasus ketika terungkap ada babysitter-babysitter yang bersikap kejam ke anak-anak yang mereka jaga? Ingat video-video yang memperlihatkan mereka ini memukul, menampar dan membanting anak-anak? Ini contoh salah satunya (bahkan ada adegan si anak dibekep dengan kain karena tidak berhenti menangis)



*videonya terlalu dp buat dikopas ke mari, jadi gugel sendiri, see it at your own risk*

Saya sendiri seringkali tidak sanggup menonton. Sering saya skip dan hanya baca artikelnya tanpa memutar videonya. Ga kuat. Saya membayangkan diri saya menjadi orang-tua yang melihat rekaman tersebut, betapa hancur luluh lantak hati mereka ketika mengetahui kebenaran ini. Seorang teman dekat pernah mengalaminya sendiri.

Nah, buat mereka yang cukup dewasa, mereka yang sudah matang secara rohani dan kuat secara jiwa, sangat mungkin mereka memaafkan para babysitter ini. Saya sudah pernah melihat begitu banyak orang-orang yang disakiti begitu dalam, namun sanggup dan secara tulus memaafkan mereka yang menyakitinya. Tidak lagi ada amarah, tidak ada lagi air mata jika mengenang masa lalu itu. Jika bertemu, mereka berbincang, tidak ada lagi emosi dan makian. Hal itu sudah lewat, dimaafkan dan sudah selesai. Kita kagum dengan orang-orang dewasa seperti mereka.

Tetapi, jika ada orang tua yang masih mau meninggalkan anaknya berdua dengan si baby sitter yang pernah menampar, memukul dan membanting anaknya ketika mereka tidak ada, ini adalah hal yang tidak masuk di akal. Hanya orang tua yang tidak waras yang akan melakukan hal itu.

I have nothing against Prabowo, Hatta, Ical, Suryadharma Ali, and all of them personally. Kalau mereka mau makan malam di rumah saya, saya akan masak buat mereka dan saya akan jadi tuan rumah yang baik dan saya akan mencoba berbincang2 dan berkelakar dan mendengarkan cerita-cerita mereka. Saya akan siapkan makanan penutup dan buah, dan mungkin juga siapkan box-box plastik buat mereka yang mau bawa pulang makanan. Sungguh. I am not kidding.

Tetapi menitipkan mereka dengan amanah kekuasaan tertinggi ekonomi, hukum dan militer di negeri ini, setelah semua catatan-catatan yang pernah mereka perbuat? Itu adalah hal yang amat sangat berbeda teman.

“Dia hanya manusia yang bisa salah. Kita semua juga pernah salah kan?” adalah alasan yang sangat valid dan masuk akal untuk memaafkan dia sebagai seorang manusia, tapi alasan yang sangat tidak cukup untuk memilih dia sebagai seorang presiden yang akan memiliki kekuatan penuh di negeri ini.

You forgive the babysitter who hit your baby, but you will never let her anywhere near your child again.

Source - http://blog.edwardsuhadi.com/2014/06/21/saya-memaafkan-prabowo/

Anggap Saja Prabowo Presiden


KALAU tidak salah foto ini saya ambil seminggu setelah peristiwa Trisakti 1998 di Seskoad Bandung, tepatnya tanggal berapa saya lupa. Saya termasuk wartawan foto yang beruntung saat itu. Karena masa itu, Pak Prabowo sulit sekali ditemui. Dan sayapun sebenarnya dilarang meliput acara ini, tetapi entah mengapa saya bisa juga masuk. Namun sehabis mendapatkan foto ini saya langsung digiring keluar. Tidak diperbolehkam masuk lagi sampai selesai acara. Namun foto ini (dalam tulisan ini, red) karya saya. Asli saya yang memotret. Kalo Tim Kampanye Prabowo mau memakai silahkan saja. Tak perlu dibayar. Silahkan dipakai sepuasnya.

Lalu apa hubungannya foto ini dengan pemilu?

Mari kita hubungkan. Yang jelas Prabowo nyapres sekarang. Masa 1998, dia adalah orang paling getol melawan pergerakan mahasiswa. Bukti, adanya Tim Mawar yang sudah diakui dan Prabowo menggerakkannya. Yah, Prabowo sekarang sudah menjalani masa hukumannya dan mempunyai hak politik untuk nyapres. Silahkan saja. Anggap aja Prabowo lolos jadi presiden.

Latar belakang dia yang ditutup dengan karir tidak baik di TNI. Lalu jadi presiden, ini akan menjadi duri dalam daging. Percayalah, jalannya pemerintah dia pegang dia tidak berjalan baik. Pemerintahan Prabowo pasti terseok seok.

Isu HAM jadi bom waktu. Bola panas yg bisa digulirkan kapan saja. Entah dari kubu siapa saja. Jangan jangan dari kubunya sendiri pun bisa. Saya percaya ini sangat bisa terjadi. Ingat peristiwa Gus Dur di suruh pulang dari Istana? Pasti tahu dong siapa yg paling getol nyuruh Gus Dur pergi dari istana. Orang itu sekarang ada di kubu Prabowo. Menjadi penasihatnya Prabowo. Tidak tertutup kemungkinan, hal ini akan terjadi. Prabowo bisa di-Gusdur-kan dalam masa setahun, dua tahun, tiga tahun. Tinggal maslaah waktu saja. Remote control itu di otak atik. Selesailah pemerintahannya. Lalu parlemen bersidang terus. Isu pemilu lagi. Demo yang pro dan kontra terus ada di jalanan. Bisa bisa setiap hari demonstrasi di jalanan protokol ibukota. Ingat, mei 1998 sampai masa akhir pemerintahannya Habibie, hampir tidak putus demontrasi tiap hari di jalanan. Semua stasiun tivi mengemas berita dalam segala hal. Mulai dari kritisi sampai dukung mendukung. Alhasil, ekonomi pasti tidak berjalan dengan baik. Investor takut masuk ke Indonesia. Uang kabur ke luar Indonesia. Rakyat tambah sengsara. Pengangguran dimana mana.

Saya tidak menakut nakuti. Tapi ini bisa menjadi agenda beberapa orang untuk membuat Indonesia tidak hebat hebat. Kita tidak tahu siapa. Tapi yang pasti, orang itu orang orang jahat. Bayangkan kamu berjalan memakai sepatu yang di dalamnya berpasir. Tinggal menunggu waktu lecet. Dan lepas itu sepatu. Nah, kalo ada orang baik mau bikin perubahan kenapa ngga kita dukung.

Sedikit tentang saya. Garis keluarga saya adalah orang PNI. Dulu Nenek saya adalah mantan wakil ketua PDI di kota kabupaten asal saya. Nenek saya bosan keluar masuk penjara. Dari umur 12 tahun saya sering dibawa ikut rapat rapat PDI. Karna saya memang cucu pertama nenek jadi sering menempellah. Pemandangan yang sangat biasa buat saya adalah orang berdebat gebrak meja lalu pulangnya berpelukan. Bahkan kampanye pun saya ikut membantu mengangkat-angkat barang. Tanpa dibayar yar. Ikut bantu bantulah. Lebih sedih lagi, ibu saya yang masa itu jadi saksi PDI di TPS kami berada. Jadi bahan olokan tetangga. Saya masih ingat ibu dan bapak saya berdoa sebelum berangkat TPS. Mereka berdoa berpelukan sambil menangis. Ngga bakal gue lupa peristiwa ini.

Alhasil, suara di TPS kami PDI hanya 2 suara saja. Pasti suara ibu dan bapak saya. Selainnya Golkar dan PPP. Ngga jarang di permainan teman teman kecilku, kalimat PDI sering terpleset PKI.Ironisnya, nenek saya yang wakil ketua saat itu dikerjain sama rekan separtai sendiri. Sengaja dikasih nomor urut gagal. Wakil Ketua lho. Nah, ini sedikit sejarah ke-Banteng-an gue. Kalo diceritain masih banyak dan panjang.

Lalu, bukan berarti asal capres PDI-P saya dukung. Bukan berarti asal kebijakan PDI-P saya setujui. Tidak sama sekali. Kalau tidak berpihak kepada rakyat, saya harus lawan. Siapapun itu. Termasuk PDI-P.

Karena pekerjaan saya fotografer, seringlah bertugas ke luar Jakarta. Suatu ketika ada pekerjaan di Solo, saya menginap hampir seminggu di Hotel Novotel Solo. Karena bosan sarapan di hotel terus, beberapa hari saya mencoba mencari sarapan di kaki lima. Lalu bertemulah saya di emperan kaki lima dengan penjual nasi liwet, Ibu Sum namanya. Tidak jauh dari Hotel Novotel Solo. Beberapa hari saya sarapan nasi liwet dia. Karena beberapa kali bertemu terjalinlah pembicaraan saya dengan Ibu Sum. Lalu jatuhlah ke topik walikota Solo yang lagi happening, Jokowi. saya bilang, saya dengar walikota ini sangat merakyat ya buu? … Tahu apa jawab Ibu Sum? “Itu nasi yang kamu makan berasnya dari Pak Jokowi to mas?” Dalam hati saya pikir kok bisa?

Kata Ibu Sum lagi, “lihat saja palingan bentar lagi dia singgahin sini lagi berasnya.” Tidak lama berselang, lewatlah sedan hitam Toyota, saya lupa plat nomor dan type sedannya. Turunlah seorang bapak yang kurus, mengangkat sekarung beras bersama sopirnya memberikan ke Ibu Sum. Lalu langsung pergi sambil mengangguk lempar senyum ke saya. Saya tidak mengenal siapa orang ini. Sayapun senyum saja. Ibu Sum menepuk saya, “itu to mas Pak Jokowi.” Air mata saya keluar seketika.

Kita Pemilu lagi ne cui. Anda tidak peduli. Atau golput. Atau nyoblos. Presiden anda harus baru. Saya tidak mau Indonesia gampang di otak-atik orang orang jahat. Indonesia masih mempunyai harapan. Indonesia masih mempunyai pemimpin yang pro rakyat. Hari ini dia nyapres, buat memimpin Indonesia yang pro rakyat: Jokowi.

Saya tidak mendewa-dewakan dia. Buat saya dia adalah sosok putra Indonesia yang benar. Dia tidak jago berpidato. Wajahnya kampungan. Tapi pikiran dan kerjanya Indonesia. Dan Indonesia. Kalo ada pemimpin tulus, jujur dan baik yang mau membereskan Indonesia, mengapa tidak didukung? Sesederhana itu aja. Mari kita anggap, Prabowo presiden. Anggap saja. 9 Juli coblos Jokowi. Salam Dua Jari.

* Peter Julio Tarigan, Storytelling Photographer, tinggal di Jakarta. Bisa dihubungi lewat twitter dan instagram @peter_julio

Source - http://satutimor.com/anggap-saja-prabowo-presiden.php